.

Jumat, 26 Maret 2010

WEG` involve next journey with fullboothstrap . . .

0 komentar
...detik berlalu untuk sekedar berbagi cerita tentang kotanya...
menyenangkan aq bilang :)















 





 







 




our blog,.,
http://komunitasweg.wordpress.com/

our spot,.,
Jalan,.,.dan jalan! di semua pinggiran Bandung. ,,
karena dari situlah memori’ kita bisa berjalan!
dan jalan itu yang membuat kita penuh dengan warisan HUMANOIRA tak terduga!

just WEG’









if u SMOKE u die!!!! hahahahhaha... :D

0 komentar



Kamis, 25 Maret 2010

~ 4th project @GA.BDG - Rumah berkarya Yuli Istanto - PONDOK KELAPA . JKT ~

0 komentar
  
- courtessy . GA . BDG -












 





BOUNDARIES in TIMELESS.


Tanah ini berlokasi di jl. Tapas …, tanah ini atas nama orang tua yg bertempat di sebelah persis dengan tempat tinggal mereka. Kami sekeluarga berencana membangun rumah idaman yang sudah lama kami rencanakan. Kami sementara tinggal di tempat yang nggk terlalu jauh dari lokasi, yg awalnya rumah ini sebagai tempat mendisplay dan menjual batik dalam skala kecil .
kebutuhan ruang,yang kami inginkan adalah R. Keluarga, R. tamu, R. makan+pantry, R. kerja+ perpustakaan, R. Tidur Utama, Anak(2)  dan Garasi.


Dana yg tersedia dari tabungan dan sebagian besar dr pinjaman KPR dari bank dengan masa pinjaman 10 tahun. kami sekeluarga mempunyai latar belakang suku yang beragam, saya sendiri Jawa (Solo) sedangkan istri merupakan perpaduan aceh dan Sunda. Saya bekerja sebagai desainer grafis di majalah Asri sedangkan istri bekerja di Konsultan HRD.

koleksi dan hobi khusus yang ingin diungkapkan dalam karakter rumah nantinya  adalah Art, music, film, fotografi, writings dalam koleksi/poster/memorabilia.ada rencana  diruang terdepan/tamu/semi teras sekaligus bisa di fungsikan tempat mendisplay batik dalam jumlah terbatas, untuk (ibu) menerima tamu.


konsep awal dalam benak keluarga tentang rumah yang nantinya akan ditinggali.
-          Simple, humble, down to earth, tidak terlalu menyolok
-          Warm,elaxing, family sanctuary
-          Retro-classic, memorable, timeless
-          Clean-chic /personal touch



 -gilbertyohannesvoerman-

" revisi desain dengan intuisi ruang dan lekuk lokalitas :D "
 
proses desain 




































 




 




 






 

Rabu, 24 Maret 2010

~ 3rd project @GA.BDG - Rumah bidan Muhammad Udin - SUMEDANG ~

0 komentar



- courtessy . GA . BDG -














The story and the spirit to cure!!!


punya keinginan mempunyai rumah di atas lahan seluas 280 m
1) rumah tinggal yang sederhana tapi enak dipandang dan nyaman ditempati yang luasnya 9x10 m yang terdiri dari 1 ruang tamu ( berada diteras) 3 ruang tidur 2 kamar mandi 1 dapur dan ruang kelurga + ruang makan jadi 1 ruangan
2) klinik bersalin tipe 29 yang terdiri dari 1 ruang tunggu,1 ruang periksa,ruang inap dan ruang bersalin jadi satu ruangan.
sisa tanah yang ada rencana buat carport, taman,kolam dan tempat jemuran.
berhubung keterbatasan dana maka yang pertama dibangun rumah tinggal yang salah satu ruang tidur untuk sementara dipakai untuk klinik bersalin.
dana yang kami punya antara 50 s.d 75jt.
Lingkungan kami adalah masyarakat yang sub urban (10km dari jatinangor), potensi desa kami  banyak terdapat bambu surat ( gombong) dan banyak home industri pembuatan batu bata, tanah kami belum ada bangunan dan merupakan lahan pekarangan, posisi tanah menghadap ke utara yang depan dan samping kanan kirinya terdapat rumah tinggal dan menghadap jalan desa yang beraspal dengan lebar 5m. struktur tanah datar dan padat.



 -gilbertyohannesvoerman-



...


revisi 1 to (kampoong house)





spot
01. bikin konsep rumah kampung salam konteks tradisional yang
    sesuai

02. bentuk massa dulu sebagai acuan single loaded . jadi biaya bangunan lebih ringan

03. bangunan 1 : tempat bidan
    bangunan 2 : untuk keluarga
    bangunan 3 : untuk area basah (kamar mandi + cuci + dll)

04. parkir kendaraan 1 aj dan berada di taman

05. eksplorasi bambu coba diangkat lebih lagi, karena kondisi
    site yang banyak bambu dan berpotensi.(1,2 jt rumah bambu --- angkat potensi bahan!)

06. kalo bisa ruang dijadikan single loaded di lebar 4m + tambahan teras yang terbuka lagi

07. suasana kompleks bambu yang bisa di eksplor lagi.

08. selasar dan koneksi antar ruang yang terbuka.. perbesar taman dan vegetasi. 

09. ingat budget  hanya 80 jt jadi coba untuk masksimal!!!


setelah di revisi total.. luas bangunan menjadi.
    bangunan 1 : tempat bidan (25m2)
    bangunan 2 : untuk keluarga (32m2)
    bangunan 3 : untuk area basah (kamar mandi + cuci + dll) (5m2/terbangun KM)

content.

ruangan keluarga benar2 di hematkan dengan di gabung sebagai ruang kegitan keluarga (dapur(r.cuci),r.makan sambil nonton),pembagian zoning
diarahkan dengan bentuk bangunan yang single load diakhiri dengan kegiatan service.  pikir ge mas, klo sudah balik modal owner bisa menambah
bangunan di lokasi taman untuk ruang keluarga+ruang kerja.. jadi dari denah ini mengejar bangunan terbangun utuh sambil membuka usaha bidan/
menabung lg..

luas.
ditotal luas 25 + 32 + 5 = 62 m2

jika mengacu di 1,2jt / m2 (rumah bambu).  62 x 1,2 jt = 74,4 jt ... (biaya tersedia 75 juta oleh keluarga m.udin - sumedang


Selasa, 23 Maret 2010

~ 2nd project @GA.BDG - Rumah Kebun Winda Yunita - BOGOR ~

0 komentar


- courtessy . GA . BDG -













family as a tree for the greatest price!!!

Saya akan bercerita sedikit ttg tujuan rumah tsb:
Saya membeli tanah 745m, yg saat ini ada 1 rumah petak ukuran 30m2 di pojok.

Saya berencana membangun rumah baru kecil, untuk orang tua (ibu, bapak & 1 adik perempuan). Dengan pertimbangan, orang tua saya (usia 67 & 63th) suka berkebun, namun selama ini mrk tinggal di rumah tanpa halaman dan berbatasan dg kampung yg sdh semakin padat.

Saya sendiri membutuhkan 1 kamar utama di lantai atas, yg biasa digunakan selama weekend. Usia saya 37 th, suami 42 tahun, kami berdua bekerja di bagian HRD, di perush swasta. Anak saya 1, perempuan, usia 8th. Hobi kami jalan2, saya & anak suka membaca & nonton film.

Selama weekend, 4 ponakan & 2 kakak jg bisa berkumpul di rumah itu, usia ponakan saya 6 – 13th.

Ke depannya, rumah itu akan saya jadikan 2 bagian.
Rumah baru (yg akan saya bangun), untuk orang tua
Rumah renovasi dr rumah petak yg ada sekarang (rencana pembangunan jangka panjang), untuk 1 kakak saya yg mempunyai 2 anak. Maksudnya, ke depannya, saya berharap kakak saya bisa tinggal disana, utk menjaga orang tua kami.
Dan, apabila dalam kondisi terdesak, tanah tsb bisa dipecah menjadi 2 bagian (untuk dijual sebagian).
Kedua rumah tsb tdk perlu besar, krn kami ingin mempertahankan kebun (termasuk 1 pohon mangga) & suami saya ingin membuat lintasan/track sepeda di sekelilingnya.

Untuk rumah baru, karena bertujuan utk orang tua, saya akan sesuaikan dg hobi orangtua kami, yaitu berkebun & ternak (bapak berkebun buah/sayur, ibu tanaman hias/anggrek dg membuat green house kecil, jg memelihara sedikit ayam/ikan). Ibu jg suka memasak.

Untuk saya sendiri, rumah tsb hanya utk keperluan istirahat & mengunjungi orang tua, shg saya mengharapkan rumah yg sejuk, asri, utk melepas penat dr aktivitas di Jkt. Suami saya suka bersepeda dan kami akan membuat rumah pohon di pohon mangga utk sarana bermain anak/keponakan.

Ayah saya dr Jawa Tengah & ibu Aceh, dan mrk sudah lama di bogor, shg stylenya cenderung Sunda-Jawa. Kami keluarga muslim & ibu saya cukup aktif dalam kegiatan keagamaan.



 -gilbertyohannesvoerman-



revisi 1 at (linier house) 




Selasa, 16 Maret 2010

bermain bambu di PT.Nikona.Bdg

0 komentar


 bamboo.

Bamboo is the fastest-growing known plant on Earth; it has been measured surging skyward as fast as 121 cm (48 in) in a 24-hour[6] and can also reach maximal growth rate exceeding one meter (39 inches) per hour for short periods of time. Many prehistoric bamboos exceeded heights of 85 metres (279 ft). Primarily growing in regions of warmer climates during the Cretaceous period, vast fields existed in what is now Asia. period,

Unlike trees, all bamboo have the potential to grow to full height and girth in a single growing season of 3–4 months. During this first season, the clump of young shoots grow vertically, with no branching. In the next year, the pulpy wall of each culm slowly dries and hardens. The culm begins to sprout branches and leaves from each node. During the third year, the culm further hardens. The shoot is now considered a fully mature culm. Over the next 2–5 years (depending on species), fungus and mould begin to form on the outside of the culm, which eventually penetrate and overcome the culm. Around 5 – 8 years later (species and climate dependent), the fungal and mold growth cause the culm to collapse and decay. This brief life means culms are ready for harvest and suitable for use in construction within 3 – 7 years.
 (courtess word from wikipedia /http://en.wikipedia.org/wiki/Bamboo#Harvesting)

Senin, 01 Maret 2010

a b s t r a c t .

0 komentar


Abstrak

Keberagaman seni dan budaya Bangsa Indonesia merupakan salah satu kekayaan lokal yang masih kita dimiliki hingga saat ini. Dengan berbagai perbedaan yang kita miliki, ternyata mampu hadir sebagai daya tarik tersendiri dalam sebuah ruang apresiasi seni dan budaya di mata mancanegara terlebih dalam ranah lokalitas kita sendiri. Tantangan abad ini untuk mempertahankan filosofi kebudayaan dan perkembangan seni dan budaya bisa dikatakan melewati proses yang sangat dramatis. Saat kekinian terus datang dan modernisasi terus menekan, pergaulan dan kehidupan sosial masyarakat kita dihadapkan dengan pola hidup yang baru dan melupakan pola budaya, pranata sosial, serta kesadaran dalam menghargai seni dan budaya lokal yang kita miliki.

Disisi lain, kualitas seni dan budaya Bangsa Indonesia adalah saksi dari sejarah yang kita miliki dengan nilai kebudayaan yang tak terbatas. Bagi penikmat seni dari dalam negeri ataupun mancanegara, karakteristik seni yang kita miliki sangatlah berharga dalam kemajuan kekayaan lokalitas budaya dan keberlangsungan pariwisata bangsa ini.

Kota Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki potensi dalam pengembangan lingkup seni dan komunitas budaya sunda. Kota Bandung yang merupakan Ibukota dari propinsi Jawa Barat ini memiliki perpaduan dan akulturasi budaya sunda yang cukup kental. Jadi, tidak heran bila banyak industri parawisata di Kota Bandung berlomba-lomba mengangkat potensi seni dan budaya sebagai citra dalam identitas kota Bandung yang sebenarnya.

Kampung seni dan budaya kota Bandung merupakan sarana apresiasi seni dan budaya yang memperkenalkan karakteristik tradisional sunda dalam media yang apresiatif dan rekreatif. Dimana, “Konsep kampung” diangkat sebagai latar belakang proses desain untuk mengangkat kembali kehidupan yang berlangsung dalam tatanan masyarakat tanah sunda secara khusus.

Memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari pengenalan seni dan budaya sunda adalah bagian dari keseimbangan budaya yang diterapkan dalam konsep pengolahan ruang (zoning) di dalam site. Pengolahan material Bambu dimanfaatkan untuk menghargai kesederhanaan material alam yang tersedia. Menjadi keunikan tersendiri dalam mengekslplorasi fungsi-fungsi struktur dan detail pada bangunan dengan menggunakan material Bambu. Bentuk bangunan yang terbentukpun akhirnya mengikuti karakteristik bambu yang lentur dan getas.

Suasana ruang dan konsep pedesaan menjadi landasan dalam sikap-sikap desain interior dan pengolahan lanskap di dalam site. Pemilihan material alam yang sesuai, coba dipadukan dalam perkembangan teknologi struktur yang lugas.

Harapan seorang perancang adalah untuk mengingatkan kembali bagaimana proses penciptaan seni dan budaya sunda agar terus lahir dalam keberagaman budaya yang sudah ada. Keberlangsungan seni dan budaya sunda sendiri haruslah terus mengalami regenerasi dalam lingkup wilayah lokal itu sendiri. Dengan tersedianya sarana atau fasilitas apresiasi seni dan budaya sunda yang tepat, diharapkan mampu menjadi salah satu langkah dalam menjaga seni dan budaya bangsa Indonesia secara global.

Kota Bandung memiliki identitas kota yang penuh sapta pesona karya dan kriya sebagai kota yang bermartabat. Peran lingkup seni dan komunitas budaya sunda yang ada di kota Bandung harus terus dikembangkan untuk berkarya dan menciptakan regenerasi yang berkembang. Oleh karena itu, baiklah kita selaku perancang ataupun penikmat seni diharapkan mampu menciptakan suasana ruang yang menerapkan konsep-konsep dasar sunda dalam pola desain, konsep desain dan karya desain yang sesuai; tidak mengurang-ngurangi ataupun tidak melebih-lebihkan dasar pemikiran tanah sunda yang sudah ada.


Salam budaya!