.

Rabu, 26 Januari 2011

-- Rumah kerucut --




-- 


sketsa ide  rumah hunian di sudut perbukitan – terinspirasi dari rumah tradisional honai  -- punyanya saudara2 kita dari papua , menggunakan material rumbai,lontar, bambu,ijuk dan  beberapa paku ;D kekekek... kondisi perbukitan site yang curam dan terjal -- menantang sikap desain yg sederhana saja tapi tetap  lucuuu ;))  alhasil agar tidak menganggu daerah resapan. pondasi titik diaplikasikan supaya tidak mengganggu titik2 pohon yg lain yang ada disekitar site +  tidak merusak akar2 besar pohon tersebut!. --



sketch the idea of ​​dwelling house at the corner of the hills - inspired by traditional homehonai - using material fringe, palm, bamboo, palm fiber and some nails; D  ...conditions of steep hills and steep site - challenging attitudes which the design should be adaptive but simple;)) so as not to disturb the area as a result of absorption. foundation point so as not to disturb the position applied to the other existing trees around the site +do not damage the roots of the tree!. -



-- Perbukitan akan seperti puding  
dgn toping fla susu -- ...,(red)


maksudnya kalo perbukitan tanpa lumur sekecil itu pun akan longsor, tanpa ilalang  yang selalu mengikat sedimen2 air2x,  dan apalagi tanpa akar2 pohon yg sudah menusuk kedalam tanah hingga 2 mtr /  lebih. ide titik pohon ini merefleksikan tekanan beban bangunan terhadap pohon yang bisa berdiri dengan 1 kaki saja yaitu dengan kekuatan batangnya sendiri ..... tidak muluk2 jika ide ini sulit diterapkan! jika batang pohon telah memiliki akar yg besar dan mengikat tanah dan melebar disekitar titik pohon -- layaknya pion catur yg memiliki kaki yg besar2... see! kebayang y! hahahha apeuuu.... ;D

sketsa ini membangun sebuah pandangan pribadi saya ,, pada dasarnya kita bisa banyak belajar dari keberadaan pengisi2 alam yg begitu besar dan bergelimangan di depan mata kita ;D Sudut kemiringan dibawah 45 derajat + posisi  lantai datar yang hilangpun pohon masih bisa tumbuh ,  dan pohon tetap tumbuh HORISONTAL... wow!




EUREKAAAA!!!!

-- luar biasa ! Tuhan menciptakan dunia berlapis alam ini ;D ... 
penuh dengan kesederhanaan dalam keterbatasan semesta  --





*sekilas tentang rumah honai -- papua ;D
  

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).


Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Rumah Honai dalam satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur), bangunan lainnya untuk tempat makan bersama, dan bangunan ketiga untuk kandang ternak.[1] Rumah Honai pada umumnya terbagi menjadi dua tingkat. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga dari bambu. Para pria tidur pada lantai dasar secara melingkar, sementara para wanita tidur di lantai satu.[2]




Honai house made ​​of wood with a conical roof made ​​of straw or reeds. Honai purposely built narrow or small and no windows are intended to withstand the cold mountains of Papua. Honai usually constructed as high as 2.5 meters and at the center of the houseprepared a place for a bonfire to warm themselves. Honai house is divided into threetypes, namely for men (called Honai), women (called Ebei), and the pig pen (calledWamai).


Honai ordinary house inhabited by 5 to 10 people. Honai home in a building used for a place to rest (sleep), other buildings for places to eat together, and the third building tocorral. [1] Home Honai generally divided into two levels. Ground floor and first floorconnected by a bamboo ladder. The men slept on the ground floor in a circle, while the women sleep on the floor



  1. ^ Honai, Rumah Adat di Wamena, diakses pada 6 April 2010
  2. ^ Honai, Rumah Adat di Wamena, diakses pada 6 April 2010