.

Kamis, 24 Maret 2011

- Kampoong Gandhekan development -

0 komentar
Kampung Gandekan atau yang sekarang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kelurahan Gandekan Kecamatan Jebres Kota Surakarta adalah bagian dari kampung urban yang terbentuk seiring dengan perkembangan Kota Surakarta atau saat ini lebih dikenal luas dengan nama Kota Solo itu sendiri. Kampung Gandekan terbagi menjadi Gandekan Tengen dan Gandekan Kiwo. Nama kampung Gandekan sendiri berasal dari nama abdi dalem dari Kraton Kasunanan Surakarta yaitu Gandhek, yang terdiri dari 2 golongan yaitu Gandhek Tengen (Kanan) dan Gandhek Kiwa (Kiri), sehingga nama kampung tempat abdi dalem gandhek tinggal itu akhirnya disebut dengan kampung Gandekan Tengen dan kampung Gandekan Kiwa.

             Posisi kampung gandekan yang secara geografis berada di aliran Kali Pepe memberikan dampak yang positif dan negatif. Secara positif merupakan kawasan strategis perdagangan yang sangat menguntungkan diperkuat dengan letaknya yang dekat dengan Pasar Gedhe Hardjonegoro, pasar tradisional terbesar di pusat kota Solo sehingga memunculkan industri-industri rumahan. 

Sedangkan dampak negatif yang ada adalah selalu menjadi kawasan langganan banjir sehingga menjadikan penduduk kampung gandekan selalu was-was jika musim penghujan tiba. Bisa jadi banjir terjadi karena kiriman dari hulu kali Pepe maupun limpahan banjir dari Bengawan Solo.









Salah satu industri rumahan yang ada di kampung gandekan adalah kerajinan sandal kulit. Adalah Ibu Suyamto, sebagai pelopor industri rumahan kerajinan sandal kulit yang secara tradisional masih menggunakan perlengkapan sederhana dan mengandalkan keuletan dan ketelitian dari pengrajin itu sendiri yang mengolah bahan baku kulit mentah hasil penyamakan dari magetan menjadi sandal kulit yang siap pakai dengan beragam jenis model baik untuk wanita maupun pria. Ibu Suyamto adalah generasi kedua dari pengrajin sandal kulit kampung gandekan, Ayah dari ibu Suyamto adalah pelopor dari industri ini. 

Beliau sudah mulai mengerjakan kerajinan sandal kulit ini sejak 40 tahun lalu dan mendapatkan pasar yang cukup baik di Kota Yogyakarta sehingga pada akhirnya pada masa kejayaannya, dapat diteruskan oleh Ibu Suyamto dan pengrajin lain sampai sekitar 30 pengrajin dengan pasar yang sama, hanya berkonsentrasi di Kota Yogyakarta.. Memasuki  tahun 1998 hingga 2010, karena kebijakan pasar bebas memberikan peluang kepada produsen asing untuk masuk ke Indonesia memberikan tawaran bagi konsumen Indonesia, salah satunya adalah produsen sandal dari china. 

Tawaran harga yang lebih murah dari sandal kulit china, harga bahan baku kulit dan karet yang terus mengalami kenaikan serta tidak diikuti oleh kenaikan harga jual sandal kulit produksi kampung gandekan dan strategi marketing yang konvensional-hanya mengandalkan pasar yogyakarta yang terus lesu- akhirnya membuat industri rumahan sandal kulit kampung gandekan menjadi kolaps, dari 30 pengrajin menjadi tinggal 1 yaitu sandal produksi ibu suyamto pada akhir tahun 2010.









Berikut ini petikan dari media cetak tentang kondisi pengrajin sandal kulit kampung gandekan:

15 Februari 2009 | 15:45 wib | Daerah Perajin Sepatu Sandal Gulung Tikar

Surakarta, CyberNews. Ratusan perajin sepatu sandal di Kalirahman, Gandekan, Jebres, Solo gulung tikar. Tingginya harga bahan baku serta modal yang tipis merupakan faktor utama.

Berdasarkan keterangan perajin di kampung tersebut, beberapa tahun lalu hampir seluruh warga di kampung tersebut merupakan perajin sepatu sandal kulit. Namun, sejak krisis 1998 hingga sekarang, jumlah perajin yang masih eksis jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Suyamto, salah seorang perajin yang masih bertahan mengatakan, saat ini jumlah perajin yang masih eksis di bawah 10 orang. Itupun dengan kondisi yang sedang-sedang saja. Sebab untuk mengembangkan usaha, mereka tidak punya cukup modal. Terlebih pemasaran produk selama ini sangat terbatas.

"Dulu ada ratusan perajin di kampung ini. Akan tetapi sejak krisis 1998 hingga sekarang jumlah perajin yang masih eksis di bawah 10," ujarnya.

Saat ini saja, kata dia perajin masih dihadapkan dengan berbagai persoalan yang menyangkut proses produksi. Sebab, bahan baku berupa kulit yang biasanya didatangkan dari Magetan, Jawa Timur makin susah didapatkan. Kalaupun ada, harganya sudah sangat mahal. Kulit yang biasanya hanya Rp 14 ribu/kg sekarang melejit jadi Rp 35 ribu.

"Biasanya setiap seminggu itu ada yang mengirimkan kulit, tetapi sekarang tidak ada. Ketika mencari ke Magetan langsung belum tentu dapat, karena perajin di sana juga pada gulung tikar," keluhnya.

Kondisi tersebut masih diperparah dengan sepinya pesanan dari pelanggan. Sebab, produk kerajinan warga yang biasanya hanya di pasarkan di Yogyakarta tersebut makin tergerus produk luar negeri. Dalam situasi normal, satu perajin bisa mengirimkan produk tersebut hingga tiga kali sepekan. Dengan satu pengiriman 15 hingga 20 kodi. Namun saat ini sekali dengan jumlah antara 10 hingga 15 kodi dengan harga Rp 240 ribu/kodi.

Hal senada juga diungkapkan, Dolik Widodo. Perajin ini mengatakan, kenaikan biaya produksi yang mencapai 75 persen tidak serta merta menaikkan harga jual. Sebab, ketika harga jual naik, dikhawatirkan pelanggan akan beralih ke produk impor yang harganya sama tetapi kualitasnya tidak jauh berbeda.

"Produk dari China itu memang sangat mengancam bagi perajin kecil. Apalagi berdasarkan informasi, orang China sudah mulai membuang produknya ke Indonesia dengan harga murah karena krisis global," ujarnya.

Untuk itu dia berharap, pemerintah juga membatasi barang impor dari luar negeri. Dengan harapan, perajin dalam negeri dengan segala produknya bisa bertahan.
Arsip suaramerdeka.com.




Analisa SWOT terhadap Kerajinan Sandal Kulit Ibu Suyamto di kampung gandekan

Strength
Weakness
Opportunity
Treath
Sebagai salah satu UMKM di kampung urban yang secara geografis berada di kawasan rawan banjir, berusaha untuk tetap survive menjaga semangat gotong royong dan menjaga warisan keahlian membuat sandal secara tardisional (handmade) dari pendahulunya.
Kemampuan marketing yang masih konvensional, strategi ekspansi yang lemah, kemampuan inovasi dan pencitraan terhadap produk kerajinan yang belum maksimal.
UMKM merupakan unit usaha dengan porsi mencapai 99 % dari seluruh unit usaha yang ada di Indonesia. Jika dikelola dengan baik maka UMKM sandal kulit ini akan menjadi genius lokal dari produk tradisional yang dapat dipertahankan di kampung urban serta mampu mem-branding kota solo menjadi kota yang mapan secara ekonomi bahkan sampai skala mikro.
Kenaikan harga bahan baku sandal kulit yang terus mengalamai kenaikan sedangkan tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual.
Penetrasi pasar oleh produk yang sama dari negara lain karena pasar bebas.











                 Kini, Ibu Suyamto hanya mengandalkan pesanan dari pasar yogyakarta yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak dan untuk dijual secara pribadi di pasar malam (Nightmarket) Ngarsopuro Surakarta tiap sabtu malam. 

Hasil yang diperoleh pun hanya cukup untuk membeli bahan baku serta memompa semangat untuk tetap melestarikan warisan keahlian membuat sandal kulit dari pendahulu beliau di kampung gandekan. Bisa jadi Ibu Suyamto mewakili banyak industri rumahan lain atau yang sekarang dikenal dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang ada di kampung-kampung urban yang memang tidak mampu mengikuti perkembangan dari pasar yang telah semakin terbuka bagi siapa saja. 

Menurut data dari Kementerian Perdagangan , tahun 2009 Indonesia memiliki 41 ribu unit usaha menengah,  546 ribu unit usaha kecil serta 52 juta unit usaha mikro. Ekspor Non Migas pada tahun 2010 pun di Jawa Tengah sendiri berasal dari UMKM. 

Menurut staf ahli Menteri bidang pemberdayaan usaha dagang UMKM dan promosi ekspor, Subagiyo, menyatakan bahwa pengusaha terus dipacu agar berpikir agar barang yang dijualnya laku unutk itu perlu pengembangan inovasi karena skala UMKM mencapai 99 % dari seluruh unit usaha di Indonesia. 

Menurut Walikota Surakarta, Ir. Joko  Widodo, pelaku UMKM harus benar-benar cermat dalam penentuan harga, pencitraan untuk promosi, serta memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan.  Selain itu faktor desain finshing dan kemasan juga rutin dievaluasi tiap 3 bulan sekali. (Solopos, 17 Maret 2011).